pasti suka ngeteh? ya!
aktivitas ini adalah kebiasaan rutin hampir semua orang di seluruh penjuru
dunia, tak terkecuali orang indonesia. Meminum teh sebenarnya sangat bermanfaat
bagi kesehatan. Namun kebiasaan orang sekarang berbeda dengan kebiasaan orang
minum teh jaman dulu. Sekarang orang senang minum teh dengan menggunakan teh
celup. Namun ternyata teh celup berbahaya. Berikut serupedia mengulas tentang
bahaya teh celup yang dirangkum dari berbagai sumber.
Ternyata penyebabnya lebih pada kemasannya, kantong kertas
kecil berserat renggang yang ternyata mengandung chlorine,
yang antara lain bisa menyebabkan kemandulan, keterbelakangan mental dan
kanker! Untuk dapat lebih memahaminya, kita akan membahas perihal teh celup ini
secara garis besar saja.
Tehnya
sendiri tidak berbahaya, yang berbahaya adalah kantong kertas kemasannya.
Kantong teh terbuat dari kertas kecil berserat renggang, –seperti sudah
disebutkan di depan, pada masa awalnya kantongnya terbuat dari sutera atau
nylon– yang diisi dengan daun teh, agar dapat menyeduh teh dengan hemat dan
praktis. Daun tehnya tetap berada dalam kantong ketika teh diseduh dengan air
panas, membuatnya sangat mudah mengeluarkan dan membuang daun teh yang sudah
diseduh itu, menyeduh teh menjadi semakin mudah karena kantung itu diikatkan
pada selembar benang dengan label kertas di ujung yang lain. Jadi benang ini
juga berfungsi sebagai alat untuk mencelupkan daun teh dan mengangkatnya.
Bahaya Chlorine
Pada
umumnya kertas dibuat dari pulp (bubur
kertas), yang terbuat dari bahan kayu, bubur ini berwarna coklat tua, untuk
membuat serat pulp itu berwarna putih, digunakan sejenis bahan kimia pemutih
yang terbuat dari senyawa chlorine yang
sangat pekat. Sayang dalam prosesnya,chlorine ini
tetap tertinggal dalam produk kertas karena tidak dilakukan penetralan karena
biayanya sangat tinggi. Kertas semacam inilah yang kemudian digunakan sebagai
kantong teh celup.
Hindari
mencelupkan kantong teh terlalu lama, karena Anda tentu berpikir
bahwa semakin lama Anda merendam teh celup itu dalam air panas, semakin banyak
sari teh yang tertinggal dalam cangkir Anda. Namun yang terjadi justru
sebaliknya. Akan semakin banyak kandungan chlorine di kantong teh celup yang
larut dalam teh Anda, apa lagi kalau Anda merendamnya lebih dari 3 menit.
Dalam
industri kertas, chlorine memang
biasa digunakan sebagai bahan insektisida, disinfektan, pengawet, pembersih dan
pemutih kertas, yang kemudian digunakan untuk membuat tissue, popok, kain dan
sebagainya; juga sumpit kayu sekali pakai, oleh sebab itu di China, sumpit
jenis ini dilarang digunakan. Kenapa? Berdasarkan penelitian, diduga ada kaitan
antara konsumsichlorine dalam
tubuh dengan kemandulan pria, lahir cacat, keterbelakangan mental serta kanker.
I.
Kandungan zat klorin di kantong kertas teh celup
Kandungan
zat klorin di
kantong kertas teh celup akan larut. Apalagi jika Anda mencelupkan kantong teh
lebih dari 3 – 5 menit. Klorin atau chlorine, zat kimia yang
lazim digunakan dalam industri kertas. Fungsinya, disinfektan kertas, sehingga
kertas bebas dari bakteri pembusuk dan tahan lama. Selain
itu, kertas dengan klorin memang tampak lebih bersih. Karena bersifat
disinfektan, klorin dalam jumlah besar tentu berbahaya. Tak jauh beda dari
racun serangga. Banyak penelitian mencurigai kaitan antara asupan klorin dalam
tubuh manusia dengan kemandulan pada pria, bayi lahir cacat, mental
terbelakang, dan kanker.
Nah,
mulai sekarang, jangan biarkan teh celup Anda tercelup lebih dari 5 menit.
Atau, kembali ke cara yang sedikit repot: Gunakan teh bubuk. Minumlah teh,
bukan klorin…
II.
(Penelitian)
Kebanyakan
orang Indonesia (terutama Jawa) kalo minum teh malah sebenarnya minum gula,
karena banyakan gulanya daripada tehnya. Lebih tepatnya, minum gula campur teh,
campur susu, atau kopi .. sekarang ketambahan minum gula campur teh & chlorine lagi. Tapi
saya percaya, yg terakhir ini masih lebih banyak sari teh-nya daripada chlorine-nya.
Berarti
ada chlorine-nya
ya di kertas teh celup …
Untuk
memuaskan keingintahuan, saya coba lakukan test hari ini, di lab saya. Hasilnya
: Untuksample 100
ml (seukuran segelas cangkir teh), dengan air aqua diambil dari dispenser
dengan panas (70 – 80oC), kemudian teh celup merk “X” diambil tehnya, kertas
pembungkus dicelupkan ke sample selama
10 menit, untuk beberapa sample didapat
hasil berkisar 0.04 – 1.10 mg/L. Air Aqua asalnya sendiri chlorine content-nya
tidak terdeteksi.
Chlorine tergolong powerful oxidizing agent,
bersifat toxic dan corrosive.
Biasa
digunakan dalam proses bleaching (contoh
di pabrik kertas), manufacturing
syntetic rubber & plastic, serta desinfektan untuk pemurnian
air.
Di
Permenkes (no …), utk persyaratan kualitas air minum, setahu saya, tidak
disebutkan nilai batas keberadaan chlorine (apa
berarti tidak diperbolehkan?). Tapi untuk Kualitas Air Kolam Renang, Permenkes
masih diperbolehkan dengan batasan antara 0.2 – 0.5 mg/L (tolong dikoreksi kalo
saya keliru). Demikian juga WHO, setahu saya batasannya max. 0.5 mg/L.
Kadar klorin di dalam
kemasan teh yang cuma 200 ml, bisa jadi lebih tinggi dibandingkan denganklorin dipengolahan
PDAM yang sekian ribu kubik karena konsentras nya merupakan fungsi dari volume
mG/Liter. Jadi jangan dilihat volume total, tapi dalam tiap liternya.”
Apa
solusinya?
Yang
pertama, jangan terlalu lama merendam teh celup dalam air panas, jangan lebih
dari 3 menit.
Yang
kedua, hindari penggunaan teh celup, sebagai gantinya, kembali seperti dulu,
dengan menggunakan teh tubruk, atau teh teko, kalau mau lebih nikmat lagi,
lakukan ritual minum teh seperti di China, Korea atau Jepang, ini bisa
menenangkan dan meningkatkan rasa hormat kepada orang lain, karena pada
intinya, ritual minum teh adalah penghormatan kepada orang yang dilayani,
sekaligus memberikan kehormatan kepada orang yang diberi kesempatan melayani,
dengan menuangkan teh ke mangkuk rekan di hadapannya.
Lindungi
keluarga Anda dari gangguan kesehatan di masa depan. Hindari teh celup atau
produk lain yang mengandung chlorine.
referensi : wikipedia, google dan kautsarku.wordpress.com

0 komentar:
Posting Komentar